April 17, 2026

Mata Uang Asia Kebakaran Hebat, Rupiah Paling Sengsara

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas mata uang negara-negara Asia bergerak di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Jumat (17/4/2026). Tekanan terjadi seiring dolar AS yang menguat tipis.
Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.23 WIB, dari 11 mata uang Asia, sembilan mata uang melemah dan hanya dua mata uang menguat terhadap greenback.

Pelemahan terdalam terjadi pada rupiah Garuda yang turun 0,35% ke level Rp17.185/US$. Level ini sekaligus menjadi level intraday terlemah rupiah sepanjang masa.

Pelemahan rupiah disusul oleh Peso Filipina yang melemah 0,19% ke PHP 60,09/US$, sementara baht Thailand turun 0,16% ke THB 32,05/US$.

Tekanan juga terlihat pada yen Jepang yang melemah 0,14% ke JPY 159,4/US$, disusul ringgit Malaysia yang turun 0,1% ke MYR 3,95/US$ serta dong Vietnam yang melemah 0,09% ke VND 26.333/US$.

Yuan China turun 0,05% ke CNY 6,82/US$, dolar Singapura melemah 0,04% ke SGD 1,27/US$, dan won Korea Selatan turun tipis 0,02% ke KRW 1.479,9/US$.

Di tengah dominasi pelemahan, hanya dua mata uang Asia yang masih mampu menguat. Yakni, Rupee India yang berhasil terapresiasi sebesar 0,14% ke INR92,893/US$, serta dolar Taiwan menguat tipis 0,03% ke TWD31,551/US$.

Arah pergerakan ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang pada waktu yang sama naik 0,05% ke level 98,266.

Dari sisi eksternal, dolar AS memang cenderung menguat, namun masih berada di jalur pelemahan mingguan ketiga beruntun. Sentimen pasar mulai membaik seiring meningkatnya harapan konflik AS-Iran segera mereda, sehingga permintaan aset safe haven berkurang dan tekanan inflasi dari energi ikut menurun.

Presiden AS Donald Trump menyatakan yakin perang dengan Iran akan segera berakhir, bahkan mengklaim Teheran telah menyepakati sejumlah ketentuan, termasuk membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan ambisi nuklir. Trump juga mengumumkan gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon, yang dinilai dapat memperkuat peluang negosiasi lanjutan AS-Iran.

Seiring meredanya tensi geopolitik, harga minyak terus melemah, membantu menurunkan ekspektasi inflasi dan mengurangi spekulasi bahwa The Federal Reserve perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.

Presiden The Fed New York John Williams pun menilai tingginya ketidakpastian membuat bank sentral perlu berhati-hati memberi panduan kebijakan, meski proyeksi dasar masih membuka ruang penurunan suku bunga dalam jangka panjang.

Pada akhirnya, meski dolar AS menguat tipis pada pagi ini, meredanya dorongan safe haven membuat pergerakan mata uang Asia tetap cenderung tertekan dan bergerak terbatas.

Berita Lainnya

Rupiah Assets Move Sideways; Bonds Firm, Equities Flat, Rupiah Stabilizes

April 17, 2026

Rupiah assets moved sideways on Thursday (16-Apr), with equities slightly lower, bonds firming, and the rupiah stabilizing. The JCI slipped […]

Strong Auction Demand With Rising Foreign Participation; INDOGB Was Sideways, JCI Extends Rally, Rupiah Softens

April 15, 2026

Demand in the 14-Apr conventional bond auction strengthened as expected, supported by ample liquidity following the maturity of FR086 (Rp134.5tn) […]

Berita Lainnya

Rupiah Assets Move Sideways; Bonds Firm, Equities Flat, Rupiah Stabilizes

April 17, 2026

Rupiah assets moved sideways on Thursday (16-Apr), with equities slightly lower, bonds firming, and the rupiah stabilizing. The JCI slipped […]

Strong Auction Demand With Rising Foreign Participation; INDOGB Was Sideways, JCI Extends Rally, Rupiah Softens

April 15, 2026

Demand in the 14-Apr conventional bond auction strengthened as expected, supported by ample liquidity following the maturity of FR086 (Rp134.5tn) […]

Scroll to Top