Mei 25, 2026

Rupiah Dibuka Menguat Tipis, Dolar AS Turun ke Rp17.690

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (25/5/2026). Penguatan rupiah terjadi seiring melemahnya dolar AS di pasar global.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengawali perdagangan di zona hijau dengan apresiasi 0,06% ke level Rp17.680/US$.

Kondisi ini membalikkan posisi rupiah pada perdagangan terakhir pekan lalu. Pada Jumat (22/5/2026), rupiah ditutup melemah 0,28% ke posisi Rp17.690/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah. Per pukul 09.00 WIB, DXY turun 0,26% ke level 98,981.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan banyak dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama dinamika dolar AS di pasar global. Tekanan terhadap dolar AS muncul di tengah harapan bahwa negosiasi antara AS dan Iran mulai menunjukkan perkembangan.

Sentimen ini ikut mendorong harga minyak turun ke bawah US$100 per barel, meski pemerintahan Presiden AS Donald Trump masih meredam ekspektasi bahwa kesepakatan dengan Iran bisa dicapai dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut membuat dolar AS tertekan pada awal pekan ini. Pelemahan greenback membuka ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan akan mendorong penguatan rupiah terhadap dolar AS. Purbaya menyebut nilai tukar rupiah ditargetkan bisa bergerak menuju level Rp15.000/US$ dari posisi saat ini yang masih berada di atas Rp17.000/US$.

Purbaya mengatakan dirinya akan mengambil langkah baru pada pekan ini untuk mendorong penguatan mata uang Garuda. Dalam konteks tersebut, ia juga menyinggung penerapan aturan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam atau DHE SDA yang akan berlaku mulai 1 Juni 2026.

Aturan baru DHE SDA tersebut diharapkan dapat membuat devisa dari ekspor komoditas, seperti batu bara dan CPO, lebih banyak bertahan di dalam negeri.

Selain aturan DHE, pemerintah juga telah menjalankan program stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar obligasi. Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga agar imbal hasil atau yield obligasi tetap stabil di tengah arus keluar modal asing.

Sepanjang pekan lalu, pemerintah tercatat telah melakukan intervensi melalui pembelian Surat Berharga Negara atau SBN di pasar sekunder sekitar Rp2,2 triliun.

Download Apps CNBC Indonesia sekarang https://app.cnbcindonesia.com/

Berita Lainnya

Weakest Bond Auction So Far This Year; BI Delivers Another Surprise Hike to Defend Rupiah Stability

Juni 10, 2026

Government bond auction demand weakened on 9-Jun, with total incoming bids declining to Rp46.7tn from Rp57.3tn in the previous auction, […]

BI-Rate Naik 25 bps menjadi 5,50%: Kebijakan Lanjutan Memperkuat Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Juni 9, 2026

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar […]

Berita Lainnya

Weakest Bond Auction So Far This Year; BI Delivers Another Surprise Hike to Defend Rupiah Stability

Juni 10, 2026

Government bond auction demand weakened on 9-Jun, with total incoming bids declining to Rp46.7tn from Rp57.3tn in the previous auction, […]

BI-Rate Naik 25 bps menjadi 5,50%: Kebijakan Lanjutan Memperkuat Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Juni 9, 2026

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan Bank Indonesia pada hari ini, tanggal 9 Juni 2026 memutuskan untuk kembali menaikkan BI-Rate sebesar […]

Scroll to Top