Rupiah mendekati Rp17.000/USD melemahkan yield SBN 10 tahun ke 6,33%, dipicu risiko geopolitik dan defisit fiskal yang meningkat.
Penulis : I Putu Gede Rama Paramahamsa
Bisnis.com, JAKARTA – Depresiasi rupiah yang kian mendekati Rp17.000 per dolar AS diikuti oleh pelemahan yield Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun. Adapun, kombinasi pelemahan rupiah dan tensi geopolitik global membuat risiko terhadap SBN kian tinggi. Berdasarkan data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), yield SBN 10 tahun terparkir di level 6,33% hari ini Selasa (20/1/2026). Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami koreksi 0,01% ke Rp16.956 per dolar AS. Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana mengatakan kombinasi dari kondisi rupiah dan tensi geopolitik yang meningkat, telah membuat risiko terhadap SBN kian tinggi. “Tapi saya tidak menampik juga kalau bahwa depresiasi rupiah ini bikin risiko SBN makin tinggi sekarang. Dan bukan sebenarnya kepada penjualan, tetapi investor meminta risk premium yang lebih tinggi,” katanya, Selasa (20/1/2026).
Dari dalam negeri, terdapat kekhawatiran terhadap defisit fiskal yang melebar dengan realisasi defisit APBN 2025 tercatat sebesar 2,92% dari PDB. Belakangan, angka ini memicu kekhawatiran lantaran dinilai sangat tipis di bawah mandatori batas defisit fiskal dalam UU Nomor 17/2003 tentang Keuangan Negara.
Belum lagi, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat penerimaan pajak mencapai Rp1.917,6 triliun sepanjang 2025. Realisasi itu hanya setara 87,6% dari target APBN 2025 sebesar Rp2.189,3 triliun. Artinya, shortfall atau realisasi penerimaan pajak kurang Rp271,7 triliun dari target. “Tapi kalau melihat dari kondisinya memang ada sell-off yang terjadi di pasar SBN. Di saat yang sama juga sebenarnya di equity ada net-buy dari asing. Penyimbang sebenarnya itu,” tegasnya.
Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, menilai bahwa secara historis kondisi pasar obligasi Tanah Air cenderung tumbuh pada awal tahun. Hal itu terjadi lantaran pengelola dana besar dari global tengah mencari instrumen investasi di negara-negara emerging market. Namun, kondisinya saat ini dinilai berbeda. Sejumlah tantangan geopolitik mendorong investor untuk lebih was-was dalam menginvestasikan dananya ke emerging market. Beberapa kondisi seperti ketegangan AS dan Venezuela atau rencana peningkatan tarif impor AS terhadap sejumlah negara Eropa. “Itu yang cukup mengganggu masyarakat, dengan ketidakpastian yang ada di pasar itu sendiri. Itu juga membuat beberapa mata uang termasuk rupiah melemah,” katanya kepada Bisnis, Selasa (20/1/2026).