Market Brief
Pasar obligasi Indonesia berdenominasi Rupiah melanjutkan penguatannya pada perdagangan kemarin, dimana yield SUN turun 1–7 bp di seluruh tenor. Yield SUN tenor 10 tahun melanjutkan penurunannya untuk kesembilan hari secara berturut-turut dan ditutup di level 6,02%, menandai reli terpanjang di tahun ini. Nilai tukar Rupiah menguat terbatas ke level IDR16.576/USD, dibandingkan IDR16.603/USD pada penutupan hari sebelumnya. Aktivitas pasar sekunder juga meningkat, dengan volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar IDR42,4 triliun, naik dari IDR33,1 triliun pada hari sebelumnya. Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi tercatat IDR1,6 triliun. Sejalan dengan pergerakan pasar obligasi Rupiah, yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi USD juga turun, di mana yield Indo-35 dan Indo-54 masing-masing turun ke level 4,91% (-2 bp) dan 5,37% (-2 bp).
Yield U.S. Treasury meningkat secara moderat pada perdagangan semalam, dimotori oleh yield tenor pendek, setelah investor mencermati laporan terbaru Beige Book dari Federal Reserve yang menunjukkan tekanan inflasi masih bertahan meskipun permintaan tenaga kerja mulai melemah. Kenaikan yield ini terjadi di tengah ketidakpastian yang masih tinggi terkait dua risiko utama terhadap perekonomian AS—yakni penutupan pemerintahan yang berkepanjangan, yang kini memasuki hari ke-15, serta meningkatnya ketegangan dagang dengan Tiongkok. Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh rilis data Empire Manufacturing Index, yang diluar perkiraan naik ke 10,7 di bulan Oktober dari -8,7 pada September, melampaui ekspektasi konsensus Bloomberg sebesar -1,8, dan mengindikasikan adanya perbaikan sementara pada aktivitas manufaktur. Namun, tertundanya publikasi sejumlah data ekonomi penting seperti klaim pengangguran dan penjualan ritel akibat penutupan pemerintahan membatasi visibilitas pasar dan menambah ketidakpastian arah kebijakan. Ketegangan perdagangan AS–Tiongkok kembali meningkat setelah Presiden Donald Trump mengancam embargo minyak goreng sebagai respons atas penurunan impor kedelai AS oleh Tiongkok, sementara Beijing memberlakukan sanksi terhadap lima anak perusahaan Hanwha Ocean asal AS. Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menyesuaikan kebijakan perdagangan hanya karena volatilitas pasar. Aksi ambil untung investor juga terlihat setelah yield obligasi tenor pendek mendekati level terendah di tahun ini. Yield U.S. Treasury tenor 2 tahun dan 5 tahun masing-masing naik ke level 3,50% (+2 bp) dan 3,62% (+1 bp), sementara yield tenor 10 tahun relatif stabil di level 4,03%. Berbeda dengan pasar AS, yield obligasi pemerintah Eropa melanjutkan penurunannya, dimana yield tenor 10 tahun di Jerman (2,57%, -4 bps), Inggris (4,54%, -5 bps), dan Prancis (3,34%, -5 bps) masing-masing melemah di tengah tingginya minat investor terhadap aset – aset yang lebih aman.
Ekspektasi berlanjutnya pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve akan menjadi faktor yang mendukung tren yield yang rendah di pasar surat utang Indonesia. Sentimen domestik juga didukung oleh likuiditas pasar yang cukup besar, minat beli investor yang kuat, serta meredanya tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. Kombinasi faktor-faktor tersebut akan memberikan landasan positif bagi pasar surat utang Indonesia, di tengah ekspektasi berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter secara global.
Fixed Income News
• PEFINDO menegaskan peringkat idAAA untuk PT Pelabuhan Indonesia (Persero) (Pelindo) serta obligasi yang diterbitkan tahun 2016 dan 2018 oleh Pelindo I dan Pelindo IV.
• PEFINDO mempertahankan peringkat idAA untuk PT Danareksa (Persero) dan obligasi yang masih beredar.
Best Regards,
Bahana Sekuritas Fixed Income Research