Market Brief
Pasar surat utang Indonesia berdenominasi Rupiah menguat terbatas pada perdagangan kemarin, dimana sebagian besar yield SUN turun pada kisaran 1–3 basis poin (bp). Yield SUN tenor 10 tahun turun 2 bp ke level 6,60%. Nilai tukar Rupiah menguat ke IDR16.195/USD, dari posisi penutupan hari sebelumnya di level IDR16.247/USD. Aktivitas perdagangan di pasar SBN menurun, dimana volume transaksi secara outright tercatat sebesar IDR26,4 triliun, lebih rendah dari transaksi hari Rabu yang mencapai IDR36,5 triliun. Sementara itu, volume perdagangan obligasi korporasi tercatat sebesar IDR4,6 triliun. Yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi USD cenderung bergerak variatif dalam rentang yang terbatas, dimana yield Indo-30, Indo-35, dan Indo-54 masing-masing ditutup di level 4,34% (+2 bp), 5,08% (-1 bp), dan 5,51% (-2 bp).
Yield U.S. Treasury meningkat pada perdagangan semalam seiring adanya rilis data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari ekspektasi, meredam ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat. Data nonfarm payrolls AS bulan Juni tercatat meningkat sebanyak 147.000, melampaui ekspektasi konsensus Bloomberg sebesar 106.000 dan sedikit lebih tinggi dibandingkan angka revisi bulan Mei sebesar 144.000. Tingkat pengangguran diluar perkiraan turun ke 4,1% dari sebelumnya 4,2% di bulan Mei, sementara pertumbuhan payroll sektor swasta hanya bertambah 74.000, terendah sejak bulan Oktober. Pasca rilis data – data tersebut, CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada Juli turun mendekati nol, dari sekitar 25% sebelumnya. Sementara itu, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 bp pada September juga menurun menjadi 64%. Penguatan data ekonomi lainnya turut menopang kenaikan yield, di antaranya indeks ISM Services yang naik ke 50,8 pada Juni (vs 50,6 ekspektasi), menandakan pemulihan bertahap di sektor jasa, serta lonjakan Factory Orders sebesar 8,2% di bulan Mei, melampaui perkiraan dan membalikkan kontraksi 3,7% pada bulan April. Yield U.S. Treasury tenor 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan 30 tahun masing-masing naik ke level 3,88% (+9 bp), 3,94% (+7 bp), 4,35% (+7 bp), dan 4,86% (+6 bp). Sebaliknya, yield obligasi pemerintah di Eropa mengalami penurunan, dimana yield 10-tahun Bund Jerman, Gilt Inggris, dan OAT Prancis masing-masing turun ke level 2,61% (-5 bp), 4,54% (-7 bp), dan 3,27% (-5 bp).
Likuiditas domestik yang solid dan permintaan investor yang tetap kuat masih menjadi faktor pendukung pasar surat utang Indonesia. Namun demikian, meredanya ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dalam jangka pendek dapat membuka potensi kenaikan yield dalam waktu dekat. Berdasarkan model valuasi kami, dengan mempertimbangkan sejumlah variabel makro dan pasar saat ini—inflasi (1,87%), BI Rate (5,50%), nilai tukar Rupiah (IDR16.195/USD), CDS 5-tahun Indonesia (75 bp), dan yield UST 10-tahun (4,35%)—yield wajar untuk SUN tenor 10 tahun berada di level 6,67%, sedikit lebih tinggi dibandingkan level pasar saat ini di level 6,60%. Dengan demikian, peluang terjadinya penyesuaian yield ke arah nilai wajarnya relatif terbuka.
Fixed Income News
• PEFINDO menegaskan peringkat idAAA untuk PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dengan prospek stabil.
• PEFINDO menegaskan peringkat idA+(sy) untuk Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2020 Seri B yang diterbitkan oleh PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA).
Best Regards,
Bahana Sekuritas Fixed Income Research