Market Brief
Yield surat utang Indonesia berdenominasi Rupiah bergerak terbatas pada kisaran 1 – 4 bp di seluruh tenor pada perdagangan awal pekan ini. Yield SUN tenor 10 tahun naik 3 bp ke level 6,75%. Sementara itu, nilai tukar Rupiah menguat ke IDR16.265/USD kemarin, dari IDR16.304/USD pada penutupan akhir pekan lalu. Aktivitas perdagangan di pasar SBN melandai, dimana volume transaksi secara outright tercatat sebesar IDR25,6 triliun, lebih rendah dari volume transaksi hari Jumat yang mencapai IDR29,7 triliun. Volume transaksi obligasi korporasi tercatat sebesar IDR2,0 triliun. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi USD mengalami kenaikan, dimana yield Indo-30, Indo-35, dan Indo-54 masing-masing ditutup di level 4,44% (+3 bp), 5,18% (+2 bp), dan 5,68% (+4 bp).
Yield U.S. Treasury meningkat di seluruh tenor pada perdagangan semalam, dimana yield obligasi tenor 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan 30 tahun masing-masing ditutup di level 3,97% (+2 bp), 4,03% (+3 bp), 4,45% (+5 bp), dan 4,96% (+6 bp). Sebelumnya, harga obligasi sempat menguat seiring penurunan harga minyak mentah, setelah adanya laporan yang menyatakan bahwa Iran memberikan sinyal untuk meredakan ketegangan dengan Israel. Namun demikian, pasar obligasi kembali melemah seiring meningkatnya selera risiko investor yang mendorong penguatan pasar saham dan memicu kenaikan yield obligasi. Dari sisi makroekonomi, survei Empire State Manufacturing menunjukkan pelemahan lanjutan pada aktivitas manufaktur di New York, dimana indeks Empire Manufacturing turun ke level -16,0 pada bulan Juni dari -9,2 di bulan sebelumnya. Pasar kini mengalihkan perhatiannya pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dimulai Selasa ini. Meskipun The Fed secara umum diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kali ini, pelaku pasar akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan dot plot bulan ini, yang pada Maret lalu mengindikasikan dua kali pemangkasan suku bunga di tahun ini. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan probabilitas sebesar 99,8% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan Juni, serta peluang sebesar 87,5% untuk tetap dipertahankan di bulan Juli. Sementara itu, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 bp pada bulan September masih menjadi skenario paling mungkin, dengan probabilitas mencapai 56,4%. Di pasar perdana, Departemen Keuangan AS berhasil melelang obligasi bertenor 20 tahun senilai USD13,0 miliar dengan permintaan yang solid, tercermin dari bid-to-cover ratio sebesar 2,68x—lebih tinggi dibandingkan lelang sebelumnya (2,46x) maupun rata-rata enam lelang terakhir (2,59x). Di Eropa, pergerakan yield obligasi cenderung variatif dalam rentang yang terbatas, dimana yield obligasi Bund Jerman tenor 10 tahun tercatat tidak berubah di level 2,53%, sedangkan yield obligasi pemerintah Inggris dan Prancis tenor 10 tahun masing-masing turun 2 bp ke level 4,53% dan 3,23%.
Yield obligasi di pasar surat utang Indonesia diperkirakan akan bergerak sideways dalam waktu dekat, seiring kemungkinan pelaku pasar yang masih akan mencermati sentimen global yang variatif. Sikap wait-and-see diperkirakan masih akan mendominasi menjelang sejumlah keputusan kebijakan bank sentral global, termasuk FOMC meeting oleh The Fed dan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia. Di sisi domestik, perhatian pasar akan tertuju pada lelang SUN hari ini. Apabila lelang kali ini kembali sukses, yang ditunjukkan oleh tingginya permintaan investor dan Pemerintah berhasil menerbitkan SUN sesuai target indikatifnya, maka hal ini dapat menjadi katalis positif bagi pasar surat utang domestik.
Fixed Income News
• Pemerintah akan melakukan lelang SUN hari ini dengan target indikatif sebesar IDR26,0 triliun.
• PT Permodalan Nasional Madani (PNM) akan menerbitkan Obligasi Berwawasan Sosial Orange Berkelanjutan I PNM Tahap I Tahun 2025 senilai IDR1,0 triliun dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan Berwawasan Sosial Orange I PNM Tahap I 2025 senilai IDR1,75 triliun.
• PT Astra Sedaya Finance (ASDF) akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan VII Astra Sedaya Finance Tahap I Tahun 2025 senilai IDR1,5 triliun.