Juli 6, 2022

Peluang Resesi Ekonomi Global Capai 50 Persen

Jakarta, CNN Indonesia — Peluang resesi ekonomi global diproyeksikan mencapai 50 persen. Hal itu sejalan dengan kebijakan sejumlah bank sentral yang menaikkan suku bunga acuan secara agresif untuk memerangi lonjakan inflasi.”Sejarah menunjukkan disinflasi sering membawa biaya yang berarti untuk pertumbuhan, dan kami melihat kemungkinan terjadinya resesi saat ini mendekati 50 persen,” ungkap para analis Citigroup, dilansir Reuters, Rabu (6/7).Menurut laporan terbaru, perlambatan ekonomi berpotensi terjadi di tingkat global dalam kurun waktu 18 bulan ke depan.Kepala Ekonom Global Citigroup Nathan Sheets mengatakan risiko resesi ekonomi akan semakin meningkat, seiring dengan inflasi yang semakin tinggi di berbagai wilayah.”Risiko resesi meningkat pada dasarnya ini disebabkan oleh inflasi global yang sangat tinggi dan terbentuk dengan sendirinya di banyak tempat berbeda, dengan berbagai cara di seluruh dunia,” ujar Nathan dalam siaran CNN.com.Oleh karena itu, sejumlah bank sentral berupaya untuk menekan inflasi karena mereka tahu dampaknya bisa fatal terhadap masyarakat dan perekonomian negara.”Mereka belajar dari pendahulu mereka di generasi sebelumnya bahwa inflasi berkelanjutan yang tinggi sangat menyakitkan bagi publik, sangat menyakitkan bagi perekonomian dan mereka melakukan segala hal agar inflasi ini tidak berakar,” imbuhnya.Ia juga khawatir kenaikan harga-harga dapat mengurangi daya beli konsumen. Sebab, inflasi dapat mengganggu pendapatan sekaligus keinginan mereka untuk berbelanja kebutuhan pokok.”Kita akan melihat koreksi yang lebih tajam dalam pengeluaran konsumen dan risiko resesi meningkat didukung oleh inflasi yang lebih tinggi yang memotong pendapatan riil dan mengurangi daya beli,” kata Nathan.Sebelumnya, Bank Dunia menyebut resesi ekonomi global sudah di depan mata. Bahkan, Bank Dunia pesimis negara-negara di dunia bisa menghindari ancaman kemunduran roda ekonomi tersebut.Dalam laporan Global Economic Prospect June 2022 (GEP), Bank Dunia menyebutkan tekanan inflasi yang begitu tinggi di banyak negara tak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Berita Lainnya

Pesona Reksa Dana kala Saham dan Obligasi Menguat

Januari 22, 2026

Industri reksa dana diprediksi tumbuh hingga 2026 seiring penguatan saham dan obligasi. I Putu Gede Rama Paramahamsa & Anitana Widya Puspa Bisnis.com, […]

Depresiasi Rupiah Bawa Yield SUN 10 Tahun Melemah ke 6,33%

Januari 21, 2026

Rupiah mendekati Rp17.000/USD melemahkan yield SBN 10 tahun ke 6,33%, dipicu risiko geopolitik dan defisit fiskal yang meningkat. Penulis : […]

Berita Lainnya

Pesona Reksa Dana kala Saham dan Obligasi Menguat

Januari 22, 2026

Industri reksa dana diprediksi tumbuh hingga 2026 seiring penguatan saham dan obligasi. I Putu Gede Rama Paramahamsa & Anitana Widya Puspa Bisnis.com, […]

Depresiasi Rupiah Bawa Yield SUN 10 Tahun Melemah ke 6,33%

Januari 21, 2026

Rupiah mendekati Rp17.000/USD melemahkan yield SBN 10 tahun ke 6,33%, dipicu risiko geopolitik dan defisit fiskal yang meningkat. Penulis : […]

Scroll to Top