25 Feb 2021

Rupiah Masih Melemah, tapi Berpeluang Hat-trick nih!

News 38 views

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan perdagangan Kamis (25/2/2021). Meski demikian, peluang Mata Uang Garuda mencatat hat-trick alias penguatan 3 hari beruntun terbuka cukup lebar.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan stagnan di Rp 14.080/US$. Sempat menguat tipis 0,04%, rupiah langsung berbalik melemah hingga 0,18% ke Rp 14.105/US$. Posisi rupiah membaik, pada pukul 12:00 WIB berada di level Rp 14.085/US$, melemah 0,04% saja.

Rupiah berpeluang bangkit di sisa perdagangan hari ini, bahkan berbalik menguat. Hal tersebut terlihat dari pergerakannya di pasar non-deliverable forward (NDF) yang siang ini lebih kuat ketimbang beberapa saat sebelum pembukaan perdagangan pagi tadi.

PeriodeKurs Pukul 8:54 WIBKurs Pukul 11:54 WIB
1 PekanRp14.094,60Rp14.050,8
1 BulanRp14.123,80Rp14.097,5
2 BulanRp14.184,40Rp14.145,7
3 BulanRp14.234,00Rp14.196,9
6 BulanRp14.393,90Rp14.351,0
9 BulanRp14.560,90Rp14.515,5
1 TahunRp14.741,00Rp14.685,9
2 TahunRp15.426,00Rp15.410,0

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula. Pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Kenaikan yield obligasi (Treasury) AS menjadi penekan utama rupiah. Pagi ini, yield Treasury tenor 10 tahun naik 19,1 basis poin ke 1,4081%. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari 2020, atau sebelum virus corona dinyatakan sebagai pandemi.

Kenaikan yield Treasury tersebut tentunya membuat obligasi (Surat Berharga Negara/SBN) kurang menarik, sebab selisihnya semakin menyempit, apalagi setelah BI yang kembali memangkas suku bunga pekan lalu tentunya yield SBN akan terus menurun. Sebagai aset negara emerging market, SBN perlu yield yang tinggi untuk menarik investor.

Material Download
Helpdesk
021 5227674 sekretariat.himdasun@gmail.com