Market Brief
Pasar surat utang Indonesia berdenominasi Rupiah melanjutkan penguatan terbatasnya pada perdagangan kemarin, dimana sebagian besar yield SUN turun 1–3 bp di sepanjang kurva. Namun demikian, yield SUN tenor 10 tahun relatif tidak banyak berubah di level 6,34%. Nilai tukar Rupiah melemah terbatas ke level IDR16.440/USD kemarin, dari IDR16.416/USD pada penutupan sesi sebelumnya. Aktivitas pasar sekunder menguat, tercermin dari volume transaksi SBN secara outright yang meningkat menjadi IDR35,4 triliun kemarin, dibandingkan IDR32,5 triliun pada hari sebelumnya. Di pasar obligasi korporasi, volume perdagangan tercatat sebesar IDR2,5 triliun. Sejalan dengan pasar obligasi Rupiah, yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi USD juga turun pada perdagangan kemarin, dimana yield Indo-30, Indo-35, dan Indo-54 masing-masing ditutup di level 4,14% (-1 bp), 4,88% (-1 bp), dan 5,34% (-2 bp).
Pasar obligasi Pemerintah AS menguat setelah data penjualan ritel yang lebih baik dari ekspektasi tidak mengubah pandangan pasar bahwa the Federal Reserve akan memulai siklus pemangkasan suku bunga untuk mendukung pasar tenaga kerja yang melemah. Penjualan ritel AS bulan Agustus naik 0,6% MoM, melampaui ekspektasi konsensus Bloomberg sebesar 0,2% MoM. Sementara itu, produksi industri naik 0,1% MoM, membalikkan penurunan 0,4% pada bulan sebelumnya dan lebih baik dari estimasi konsensus yang memperkirakan penurunan 0,1%. Data – data yang lebih kuat ini sempat mendorong yield naik ke level tertinggi pada intraday, namun berbalik melemah setelah lelang obligasi 20 tahun U.S. Treasury senilai USD13,0 miliar mencatatkan permintaan yang solid. Bid-to-cover ratio pada lelang tersebut mencapai 2,74x, lebih tinggi dibandingkan 2,54x pada lelang sebelumnya dan rata-rata enam kali lelang terakhir sebesar 2,64x. Perhatian investor kini tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan berakhir malam ini, di mana pasar sepenuhnya memperkirakan pemangkasan suku bunga sebesar 25 bp, berdasarkan data CME FedWatch Tool. Investor juga menantikan proyeksi terbaru The Fed, khususnya terkait ekspektasi pemangkasan lanjutan hingga akhir tahun. Yield U.S. Treasury turun di seluruh tenor, dimana yield tenor 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan 30 tahun masing-masing ditutup di level 3,51% (-3 bp), 3,59% (-2 bp), 4,03% (-1 bp), dan 4,65% (-1 bp). Sementara itu, yield obligasi Eropa bergerak mixed dalam rentang yang terbatas, dimana yield obligasi Pemerintah Jerman, Inggris, dan Prancis tenor 10 tahun masing-masing ditutup di level 2,69% (tidak berubah), 4,64% (+1 bp), dan 3,49% (+1 bp).
Yield obligasi di pasar surat utang Indonesia diperkirakan akan bergerak dalam rentang yang terbatas dalam jangka pendek seiring kemungkinan investor yang cenderung wait-and-see menjelang hasil rapat FOMC malam ini. Fokus pasar juga akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia hari ini. Berdasarkan survei Bloomberg, 36 dari 38 ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,00%, sementara dua ekonom memperkirakan adanya pemangkasan 25 bp ke level 4,75%. Tren yield yang rendah di pasar surat utang domestik masih akan ditopang oleh likuiditas investor yang kuat, yang tercermin dari tingginya bid pada lelang Sukuk Negara kemarin. Total incoming bids dalam lelang kali ini mencapai IDR59,7 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan IDR41,9 triliun pada lelang sebelumnya dan jauh di atas rata-rata bid dalam 16 kali lelang sukuk sebelumnya sejak awal tahun ini yang sebesar IDR32,0 triliun.
Fixed Income News
• Pemerintah menerbitkan Sukuk Negara senilai IDR10,0 triliun melalui lelang Sukuk kemarin, diatas target indikatifnya yang sebesar IDR9,0 triliun.
• PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 dengan target sebesar IDR650,0 miliar, serta Sukuk Wakalah Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 senilai IDR350,0 miliar.