JAKARTA, investor.id – PT Insight Investments Management (PT IIM) memandang tahun 2026 sebagai periode yang penuh tantangan sekaligus peluang bagi investor. Ketidakpastian global masih membayangi, namun fundamental ekonomi Indonesia dinilai semakin solid dan membuka ruang pertumbuhan investasi.
Direktur PT IIM Camar Remoa mengatakan, pertumbuhan ekonomi global masih stagnan di kisaran 3,2% sejak 2023 hingga 2026. Ketegangan geopolitik, perang dagang, krisis iklim, serta dampak lanjutan pandemi Covid-19 masih menjadi faktor penekan utama.
Amerika Serikat (AS) diproyeksikan tumbuh sekitar 2% pada 2025 dan melambat menjadi 1,7% pada 2026 akibat efek lanjutan kebijakan tarif proteksionis. “Kebijakan AS justru meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi berdampak negatif bagi aktivitas bisnis dan investasi,” ujar Camar dalam paparan market outlook 2026 di Jakarta, Senin (12/1/2026).
Meski demikian, negara berkembang seperti India, China, dan Indonesia masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi dunia. India mencatatkan pertumbuhan tertinggi, sementara China dan Indonesia tetap menunjukkan tren yang relatif solid.
Camar mengatakan, IIM memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berpotensi mencapai 5,2%. Penguatan terutama didorong oleh konsumsi rumah tangga, stabilitas makroekonomi, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter.
Consumer Confidence Index (CCI) November 2025 tercatat di level 124, mencerminkan keyakinan masyarakat yang semakin membaik. Tren penurunan suku bunga juga diharapkan mendorong peningkatan belanja masyarakat.
Selain itu, paket stimulus pemerintah melalui Economic Acceleration Package senilai Rp16 triliun mulai berdampak positif terhadap daya beli sejak paruh kedua 2025. Inflasi tetap terjaga di bawah 3%, sesuai target Bank Indonesia.
“Pemulihan ekonomi domestik mulai lebih merata. Kepercayaan konsumen, inflasi yang terkendali, serta kebijakan moneter dan fiskal menjadi kombinasi positif bagi pertumbuhan ke depan,” jelas Camar.
Dari sisi fiskal, lanjut Camar, defisit tetap dijaga di bawah 3% PDB. Belanja pemerintah pada 2026 diproyeksikan meningkat, khususnya untuk sektor sosial, pangan, dan infrastruktur. Investasi juga diperkirakan membaik seiring PMI yang konsisten berada di atas level ekspansif.
Obligasi Masih Jadi Andalan
Di pasar obligasi, Camar mengatakan, pemerintah telah menerbitkan SBN sebesar Rp710,55 triliun hingga September 2025 atau sekitar 79% dari target tahunan. Kepemilikan SBN masih didominasi investor domestik, mencerminkan kepercayaan terhadap stabilitas obligasi pemerintah.
“Tingginya likuiditas domestik dan pergeseran alokasi dari SRBI ke SBN menunjukkan obligasi pemerintah tetap menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas portofolio,” kata Camar.
Selain itu, jatuh tempo obligasi senilai Rp218,9 triliun pada Oktober 2025 diperkirakan menambah likuiditas pasar dan berpotensi kembali masuk ke SBN maupun obligasi korporasi.
Sementara itu, lanjut Camar, pasar saham Indonesia sepanjang 2025 bergerak volatil. Investor asing sempat mencatatkan outflow hingga Rp 54 triliun pada September, namun berbalik inflow sekitar Rp25 triliun pada Oktober–November 2025.
Secara kinerja, laba emiten di IHSG terkontraksi sekitar 9% selama 9M-2025. Namun, IHSG justru mencatat kenaikan 22,1% sepanjang 2025 hingga menutup tahun di level 8.646.
Penguatan indeks terutama didorong saham-saham konglomerasi seperti DSSA, DCII, BRPT, TLKM, ASII, dan BRMS. Sementara saham big cap perbankan yang mendominasi LQ45 hanya naik sekitar 2,41%.
Camar menilai, 2026 menjadi momentum bagi investor untuk kembali fokus pada peluang pertumbuhan saham, seiring membaiknya daya beli dan potensi pelonggaran likuiditas global. Penurunan suku bunga dan stimulus di AS berpotensi mendorong capital inflow ke pasar domestik serta meningkatkan minat terhadap aset berisiko.
Valuasi saham yang masih di bawah rata-rata historis lima tahun serta dividen yield yang relatif tinggi membuat reksa dana saham dinilai semakin menarik. Namun, Camar menekankan pentingnya strategi investasi yang terdiversifikasi dan disiplin. Reksa dana pasar uang tetap relevan sebagai instrumen pengelolaan likuiditas dan penyeimbang volatilitas portofolio.
“Disiplin alokasi aset dan pemilihan instrumen yang tepat akan menjadi kunci bagi investor dalam menghadapi dinamika pasar pada 2026,” pungkas Camar.
Editor: Indah Handayani