Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Asia kompak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (6/7/2026). Tekanan terjadi saat indeks dolar AS kembali bergerak naik.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, seluruhnya melemah terhadap dolar AS.
Rupiah ikut terseret ke zona merah. Mata uang Garuda melemah 0,25% ke posisi Rp17.990/US$. Posisi ini membuat rupiah kembali berada sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$.
Tekanan paling dalam pagi ini dialami won Korea Selatan yang melemah 0,33% ke posisi KRW 1.534/US$. Dolar Taiwan menyusul dengan koreksi 0,29% ke TWD 32,019/US$.
Yen Jepang juga terkoreksi 0,27% ke posisi JPY 161,79/US$. Peso Filipina turun 0,22% ke PHP 61,513/US$, sementara baht Thailand melemah 0,18% ke THB 33,19/US$.
Ringgit Malaysia ikut melemah 0,12% ke posisi MYR 4,072/US$. Yuan China terkoreksi 0,10% ke CNY 6,786/US$, dolar Singapura turun 0,06% ke SGD 1,292/US$, sementara dong Vietnam melemah tipis 0,03%.
Pelemahan pada mata uang asia terjadi di tengah penguatan pada dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau menguat 0,11% ke posisi 100,968 pada waktu yang sama. Penguatan tipis ini cukup memberi tekanan ke mata uang Asia, terutama karena posisi dolar AS masih relatif tinggi.
Dolar AS sebenarnya sempat berada dalam tekanan besar pada pekan lalu. Greenback mencatat penurunan mingguan terdalam sejak April setelah data tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan tajam penciptaan lapangan kerja pada Juni.
Data tersebut membuat pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve/The Fed pada tahun ini. Saat ekspektasi kenaikan bunga mereda, dolar AS biasanya kehilangan sebagian daya tariknya.
Namun, tekanan terhadap dolar belum sepenuhnya berlanjut pada awal pekan ini. Strategis OCBC menilai penurunan tingkat pengangguran masih menunjukkan pasar tenaga kerja AS tetap ketat, sehingga ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed belum benar-benar hilang.
“Prospek dolar AS secara lebih luas tetap konstruktif,” tulis strategis OCBC, dikutip dari Reuters.
OCBC juga masih mempertahankan pandangan bahwa dolar AS berpotensi menguat moderat sekitar 2-3% pada paruh kedua 2026.
Di sisi lain, penurunan harga minyak membantu meredakan sebagian kekhawatiran inflasi. Jika harga energi terus turun, tekanan inflasi dapat ikut menurun dan ruang The Fed untuk menaikkan suku bunga menjadi lebih terbatas.
Meski begitu, pasar masih menunggu petunjuk baru dari risalah rapat The Fed bulan Juni. Risalah tersebut akan menjadi perhatian karena dapat memberi gambaran bagaimana para pembuat kebijakan melihat arah suku bunga setelah data ekonomi terbaru.
Strategis Commonwealth Bank of Australia menilai risalah rapat kali ini bisa saja lebih pendek atau tidak terlalu banyak memberi petunjuk seperti biasanya. Hal ini sejalan dengan pandangan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menilai bank sentral sebelumnya terlalu banyak memberikan panduan ke pasar.