Januari 22, 2026

Pesona Reksa Dana kala Saham dan Obligasi Menguat

Industri reksa dana diprediksi tumbuh hingga 2026 seiring penguatan saham dan obligasi.

I Putu Gede Rama Paramahamsa Anitana Widya Puspa

Bisnis.com, JAKARTA — Para pelaku industri reksa dana optimistis kinerja dana kelolaan hingga imbal hasil investasi pada 2026 cenderung bertumbuh seiring dengan potensi peningkatan aset saham dan obligasi.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total dana kelolaan reksa dana pada 2025 mencapai Rp 679,24 triliun, yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Nilai aktiva bersih (NAB) tersebut juga naik 35% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.Pencapaian pada 2025 menjadi modal kuat bagi Manajer Investasi (MI) untuk mempertebal portofolionya. Apalagi, kinerja aset saham dan obligasi, sebagai aset dasar produk reksa dana, diprediksi moncer pada 2026.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,36% atau 124,37 poin ke level 9.010,33 pada perdagangan Rabu (21/1/2026), setelah sebelumnya reli ke rekor tertinggi (all time high/ ATH). Secara year-to-date (YtD), IHSG masih naik 3%, dan menunjukkan pertumbuhan 25,46% setahun terakhir. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) juga melemah 0,30% ke level 440,0959. Namun, dalam setahun terakhir, indeks yang mengukur kinerja obligasi tersebut masih naik 11,85%. Perinciannya, Indobex Government Total Return, yang mengukur indeks obligasi pemerintah, naik 11,87% setahun terakhir. Dalam waktu yang sama, Indobex Corporate Total Return, yang menilai indeks obligasi korporasi, menguat 11,52%.

PT Eastpring Investments Indonesia meramal kondisi yang positif terhadap prospek industri reksa dana Tanah Air sepanjang 2026. Head of Multi Asset Eastspring Investments Indonesia Erik Susanto memandang optimistis terhadap prospek reksa dana dengan aset saham maupun surat utang. Katalis datang dari kondisi makroekonomi yang disebut mampu memberikan penguatan bagi kinerja dua kelas aset itu.

Terhadap pasar saham, Erik menilai bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi di level 5,3%–5,4% memberikan optimisme terhadap pasar. Selain itu, beberapa sektor juga dinilai kuat ditopang oleh kebijakan fiskal maupun moneter dari pemerintah. “Kami melihat itu (pasar saham) akan menjadi baik. Sebentar lagi juga kita akan memasuki Lebaran, itu akan menjadi penopang sektor konsumer menjadi lebih baik,” katanya saat ditemui di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Untuk aset pendapatan tetap, Erik menilai peluang pemangkasan suku bunga Bank Indonesia sebanyak 2 kali pada tahun ini, mendorong sentimen positif bagi pasar surat utang Tanah Air. Hanya saja, dia memprediksi peluang pemangkasan suku bunga lebih besar terjadi pada paruh kedua 2026. Hal itu lantaran posisi nilai tukar rupiah yang melemah ke level mendekati Rp17.000 per dolar AS. “Secara keseluruhan, kami melihat bahwa kami harus melakukan diversifikasi. Di sini multiaset berperan penting dari segi alokasi aset, karena volatilitas masih ada,” katanya.


Proyeksi data positif ini turut memberikan optimisme kepada Eastspring dalam mengejar target pertumbuhan dana kelolaan (AUM) sebesar 10% pada tahun ini dan pertumbuhan jumlah investor sebesar 3%–5%. Senada, Head of Investment Eastspring Investments Indonesia Liew Kong Qian juga menilai prospek industri reksa dana yang positif pada 2026. Selain aksi pelonggaran moneter, stimulus fiskal dan percepatan belanja pemerintah diprediksi mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemulihan laba korporasi. “Seiring mulai pulihnya konsumsi dan aktivitas sektor riil, sentimen pasar berpeluang membaik dan menjadi katalis positif bagi kinerja reksa dana,” katanya.

Tahun ini, Eastspring akan lebih berfokus pada produk reksa dana pendapatan tetap (RDPT) dan campuran. Dalam mengelola aset berbasis saham, fokus strategi akan diarahkan pada sektor yang mendapatkan keuntungan dari perbaikan likuiditas sektor keuangan, investasi di sektor komoditas, hingga potensi pemulihan permintaan rumah tangga. Sepanjang 2025, Eastspring telah membukukan dana kelolaan yang meningkat 22,3% menjadi Rp72,7 triliun, dengan jumlah investor tumbuh 9%. Dari total dana kelolaan tersebut, reksa dana pendapatan tetap lewat Reksa Dana IDR High Grade memberikan kontribusi Rp10 triliun.

STRATEGI

Terpisah, PT Korea Investment Management (KIM) Indonesia membeberkan sejumlah strategi perusahaan dalam meracik reksa dana pada 2026. Presiden Direktur KIM Indonesia Arfan Karniody mengatakan sepanjang 2025 kinerja RDPT perseroan tumbuh signifikan hingga 6 kali lipat menjadi Rp5,5 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan eksposur pada obligasi bertenor panjang, seiring kebijakan pelonggaran BI yang agresif. Sepanjang 2025, BI tercatat memangkas suku bunga sebanyak lima kali.

Memasuki 2026, Arfan memperkirakan pelonggaran moneter tidak seagresif tahun sebelumnya. BI diprediksi hanya menurunkan suku bunga 2 kali. Dengan proyeksi tersebut, KIM Indonesia mengalihkan fokus ke obligasi bertenor menengah. “Kami lebih memilih obligasi tenor menengah, sekitar 3–5 tahun,” kata Arfan.

Untuk strategi reksa dana saham dan campuran, KIM Indonesia menekankan pendekatan adaptif terhadap dinamika pasar. Arfan menyebut, perseroan tidak membatasi pilihan pada saham blue chips atau kelompok konglomerasi tertentu, melainkan pada saham yang tengah diminati pasar dengan potensi kenaikan yang memadai. “Kami harus adaptif. Kalau blue chips sedang tidak ada demand, kami harus switch ke yang semua orang mau. Yang semua orang lagi suka, konglomerat stock. Cuma kami harus melihat valuasi dan fundamental bisnisnya,” ujar Arfan.

Dari sisi sektoral, KIM Indonesia menilai emiten telekomunikasi tetap menarik karena bersifat defensif dan berorientasi domestik. Sektor konsumer juga dipandang prospektif seiring kebijakan fiskal dan moneter yang relatif ekspansif. Dengan strategi tersebut, KIM Indonesia menargetkan pertumbuhan dana hingga 30% pada 2026. Sepanjang 2025, total AUM KIM Indonesia tercatat mencapai Rp8,89 triliun.

REKSA DANA SAHAM

Kinerja rata-rata reksa dana saham diproyeksikan masih berada di kisaran pertumbuhan 7%–9%, dimotori sektor energi dan komoditas. Namun demikian, pertumbuhan ini tidak akan setinggi capaian tahun sebelumnya.

Vice President Infovesta Wawan Hendrayana mengatakan pada tahun ini, mayoritas manajer investasi akan meracik portofolio agar tidak tertinggal dari IHSG. Oleh karena itu, saham-saham konglomerasi akan mulai mengisi portofolio reksa dana, terutama yang masuk indeks besar luar negeri seperti MSCI, FTSE, atau GDX. “Kinerja (reksa dana saham) masih bisa diharapkan positif meski tidak setinggi tahun lalu. Kinerja akan berada rata-rata di 7% – 9 %,” ujarnya, Senin (19/1/2026).

Seiring dengan proyeksi pertumbuhan reksa dana saham, Wawan juga menyebut dana kelolaan juga berpotensi menembus Rp90 triliun—Rp100 triliun. Dia melanjutkan apabila pada tahun lalu IHSG hingga mampu menembus 9.000, sebagian besar dari saham-saham konglomerasi hingga saham yang terkait emas. Di tengah ketidakpastian global, sektor energi dan komoditas masih menjadi pilihan. Selain itu, saham-saham sektor keuangan juga mulai dilirik karena menawarkan valuasi yang relatif murah dengan dividend yield yang menarik.

Wawan mencatat kinerja reksa dana saham sepanjang 2025 mengalami dinamika menarik karena dana kelolaan justru mengalami penurunan tipis. Kondisi ini mencerminkan perilaku investor yang mulai melakukan profit taking setelah melalui periode pemulihan pasar. Penurunan dana kelolaan tersebut dinilai wajar, mengingat sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan. Sebelumnya, kinerja reksa dana saham pada periode 2023–2024 cenderung tertekan akibat koreksi pasar, sehingga rebound yang terjadi pada 2025 dimanfaatkan investor untuk mengunci hasil investasi.

Berita Lainnya

Bahana Sekuritas Fixed Income Morning Flash

Maret 17, 2026

Market Brief Indonesia’s local-currency bond market extended its losses at the start of the week, with government bond yields rising […]

BNIS Fixed Income Daily Report

Maret 17, 2026

Bond Market Review (Monday,03/16) The weakening trend in Government Debt Securities (SUN) prices continued during yesterday’s trading session. PHEI data […]

Berita Lainnya

Bahana Sekuritas Fixed Income Morning Flash

Maret 17, 2026

Market Brief Indonesia’s local-currency bond market extended its losses at the start of the week, with government bond yields rising […]

BNIS Fixed Income Daily Report

Maret 17, 2026

Bond Market Review (Monday,03/16) The weakening trend in Government Debt Securities (SUN) prices continued during yesterday’s trading session. PHEI data […]

Scroll to Top