Market Brief
Pasar surat utang Indonesia berdenominasi Rupiah menguat pada perdagangan kemarin, dimana sebagian besar yield SUN turun 1–5 bp di seluruh tenor. Yield SUN tenor 10 tahun turun 2 bp ke level 6,38%. Nilai tukar Rupiah menguat ke level IDR16.115/USD, dari IDR16.202/USD pada penutupan sesi sebelumnya. Aktivitas perdagangan di pasar SBN melambat, dengan volume transaksi outright tercatat sebesar IDR26,8 triliun, turun dari IDR38,5 triliun pada perdagangan hari sebelumnya. Sementara itu, volume perdagangan obligasi korporasi tercatat sebesar IDR1,3 triliun. Sejalan dengan pergerakan pasar obligasi berdenominasi Rupiah, yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi USD juga menurun, dimana yield Indo-30 dan Indo-54 masing-masing turun 1 bp ke level 4,25% dan 5,46%, sedangkan seri Indo-35 turun 3 bp ke level 5,04%.
Yield U.S. Treasury rebound pada perdagangan semalam seiring adanya rilis data Producer Price Index (PPI) AS bulan Juli yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar. PPI headline naik 0,9% MoM dan 3,3% YoY, meningkat dari 0,0% MoM dan 2,4% YoY pada bulan Juni, serta diatas ekspektasi konsensus yang memperkirakan kenaikan 0,2% MoM dan 2,5% YoY. PPI inti, yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi, melonjak 0,9% MoM dan 3,7% YoY, jauh di atas estimasi konsensus Bloomberg sebesar 0,2% MoM dan 3,0% YoY. Data tersebut berlawanan dengan rilis CPI sebelumnya pada pekan ini yang mengindikasikan tekanan harga konsumen yang lebih moderat. Sementara itu, klaim awal tunjangan pengangguran AS turun menjadi 224 ribu untuk pekan yang berakhir 9 Agustus 2025, dari 227 ribu pada pekan sebelumnya, sekaligus lebih rendah dari proyeksi konsensus Bloomberg sebesar 225 ribu. Kombinasi kenaikan inflasi produsen yang lebih tinggi dari perkiraan dan data pasar tenaga kerja yang tetap solid turut meredakan ekspektasi pemangkasan suku bunga secara agresif oleh The Fed. Kontrak interest-rate swaps masih mengindikasikan setidaknya akan terdapat pemangkasan suku bunga sebesar 50 bp dalam tiga pertemuan kebijakan The Fed yang tersisa tahun ini. Namun, pasar tidak lagi sepenuhnya memperhitungkan pemangkasan suku bunga pada bulan September seperti pada perdagangan Rabu lalu. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan Fed Fund rate sebesar 25 bp pada bulan September saat ini tercatat sebesar 92,7%. Yield U.S. Treasury meningkat di seluruh tenor pada perdagangan semalam, dimana yield tenor 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan 30 tahun masing-masing naik ke level 3,73% (+5 bp), 3,82% (+6 bp), 4,29% (+5 bp), dan 4,87% (+4 bp). Sejalan dengan pasar obligasi AS, yield obligasi pemerintah Eropa juga meningkat, dimana yield Bund Jerman tenor 10 tahun naik ke level 2,71% (+3 bp), gilt Inggris tenor 10 tahun naik ke level 4,64% (+5 bp), dan OAT Prancis tenor 10 tahun ditutup di level 3,37% (+4 bp).
Meningkatnya yield obligasi global di tengah meredanya ekspektasi pemangkasan suku bunga agresif The Fed berpotensi memberikan tekanan kenaikan yield obligasi di pasar surat utang Indonesia dalam jangka pendek. Penurunan imbal hasil yang signifikan dalam beberapa hari terakhir juga dapat memicu aksi ambil untung investor, sehingga membuka peluang terjadinya koreksi sehat di pasar dalam waktu dekat.
Fixed Income News
• PEFINDO menegaskan peringkat idA untuk PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM) dengan prospek stabil.
• PEFINDO mempertahankan peringkat idA+ untuk Obligasi II Tahun 2024 yang diterbitkan oleh PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BOLD).