Market Brief
Pasar obligasi Indonesia berdenominasi Rupiah menguat pada perdagangan kemarin, dimana yield SUN turun pada kisaran 1–8 basis poin (bp) di seluruh tenor. Yield SUN tenor 10 tahun turun 6 bp ke level 6,69%. Nilai tukar Rupiah menguat terbatas, ditutup di level IDR16.243/USD dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya di level IDR16.260/USD. Aktivitas perdagangan di pasar SBN sedikit melambat, dengan volume transaksi secara outright tercatat sebesar IDR26,3 triliun kemarin, lebih rendah dari volume transaksi hari sebelumnya sebesar IDR27,0 triliun. Sementara itu, volume perdagangan obligasi korporasi tercatat sebesar IDR2,6 triliun. Sejalan dengan pergerakan pasar obligasi Rupiah, yield obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi USD juga mengalami penurunan, dimana yield Indo-30, Indo-35, dan Indo-54 masing-masing ditutup di level 4,45% (-8 bp), 5,20% (-6 bp), dan 5,67% (-5 bp).
Yield U.S. Treasury melanjutkan penurunannya untuk hari kedua secara berturut-turut, seiring adanya rilis data tenaga kerja dan inflasi yang lebih lemah dari perkiraan, yang memperkuat ekspektasi pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter the Federal Reserve. Initial jobless claims untuk pekan yang berakhir 7 Juni tercatat sebesar 248.000, tidak berubah dari pekan sebelumnya dan lebih tinggi dibandingkan ekspektasi konsensus Bloomberg sebesar 242.000. Sinyal pelemahan pasar tenaga kerja juga terlihat pada kenaikan klaim lanjutan (continuing claims) sebesar 54.000 menjadi 1,956 juta—level tertinggi sejak November 2021—dan melampaui proyeksi pasar sebesar 1,910 juta. Inflasi tetap terkendali di bulan Mei, dimana Indeks Harga Produsen (PPI) hanya naik 0,1% secara bulanan, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 0,2%. PPI inti juga mencatatkan kenaikan 0,1%, di bawah proyeksi konsensus sebesar 0,3%. Data ini menunjukkan bahwa penyesuaian tarif dagang sejauh ini belum memberikan tekanan berarti terhadap biaya produksi dan harga konsumen. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa the Fed berpeluang memangkas suku bunga pada bulan September mendatang. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga the Fed pada FOMC bulan September saat ini tercatat sebesar 74,6%. Di pasar perdana, lelang obligasi AS tenor 30 tahun senilai USD22 miliar menunjukkan permintaan yang kuat, dengan bid-to-cover ratio sebesar 2,43x, lebih tinggi dibanding lelang sebelumnya yang sebesar 2,31x, maupun rata-rata lima kali lelang terakhir yang sebesar 2,39x. Di pasar sekunder, yield U.S. Treasury kembali turun di seluruh tenor: dimana yield tenor 2-tahun turun menjadi 3,91% (-4 bp), 5-tahun ke level 3,97% (-5 bp), 10-tahun ke level 4,36% (-6 bp), dan 30-tahun ke level 4,84% (-8 bp). Sejalan dengan pasar obligasi AS, yield obligasi Eropa juga menurun, dimana yield obligasi Pemerintah Jerman, Inggris, dan Prancis tenor 10 tahun masing-masing turun ke level 2,48% (-5 bp), 4,48% (-7 bp), dan 3,18% (-5 bp).
Dalam jangka pendek, pasar surat utang Indonesia diperkirakan akan mendapat dukungan dari tren penurunan yield obligasi secara global, di tengah meningkatnya ekspektasi arah kebijakan moneter The Fed yang dovish. Namun demikian, potensi penguatan pasar surat utang domestik secara signifikan diperkirakan akan lebih terbatas terbatas, seiring kemungkinan investor yang cenderung tidak terlalu agresif menjelang lelang SUN hari Selasa pekan depan.
Fixed Income News
• PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan VII Adira Finance Tahap I Tahun 2025 senilai IDR1,2 triliun dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan VI Adira Finance Tahap I Tahun 2025 senilai IDR300,0 miliar.
• PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) akan menerbitkan Obligasi Berlandaskan Keberlanjutan (Sustainability Bond) Berkelanjutan I Bank BNI Tahap I Tahun 2025 senilai IDR5,0 triliun.